Sabtu, 30 Januari 2016

Ketulusan Hatimu (Bagian 1)


By on 23.09


Mataku memandang jauh ke depan,, seakan-akan ada pemandangan yang sangat menarik yang membuatku tak bisa berkutik sedikit pun. Langit yang berwarna jingga kemerah-merahan semakin menambah keindahan suasana senja itu. Percikan air laut yang membentur batu seakan menjadi musik penghibur untukku. Sebuah botol yang berisi kertas kulemparkan ke laut biru, ingin rasanya semua kepahitan ini pergi bersama botol itu. Aku termenung, kembali teringat akan segala hal yang terjadi hingga kini ku bereada di pantai ini.

Setahun yang lalu....
Aku berjalan di lorong-lorong sekolah. Dengan perlahan kulangkahkan kakiku menyusuri lorong-lorong hingga langkahku terhenti tepat di depan kelas 2 IPA 1, di ujung lorong itu.
“Permisi Bu”, seisi kelas itu memandangku seakan bertanya ‘mengapa aku ada di sini?’
“Oh iya,, silakan masuk”. Aku pun menginjakkan kakiku memasuki ruangan kelas itu.  “Nah siswa-siswi semuanya, hari ini kita kedatangan siswi baru. Silakan...!!”
perkenalkan, saya shafara putri dari SMA N 1 Pontianak. Kalian bisa memanggil saya Rara”. Perkenalan pun berjalan sebagaimana biasanya, dan perkenalan itu juga yang mempertemukanku dengannya. Seseorang yang telah berhasil menghancurkan segala prinsipku tentang cinta dan pacaran. Dan seseorang yang berhasil membuat hatiku menyayangi seseorang melebihi segalanya. Dialah Raka, cowok playboy dan senang menjahiliku.

*****

Pagi yang seperti biasanya, aku selalu duduk di kursi taman di depan kelasku. Dan pemandangan yang tak asing lagi bagiku, yang selalu tampak di depan mataku. Dan kini ia berlalu di hadapanku.
“Ka, ntar malam kita jadi nonton kan!!? kita kan gak pernah nonton bareng. Mona juga kepengen nonton bareng pacar Mona kaya’ temen-temen yang laen. Mau ya, Ka?” pinta Mona. Mona emang baru-baru ini jadi pacar Raka. Dari cara Raka merangkul dia aja udah jelas kelihatan, apalagi dari omongannya yang kudengar barusan. Jujur, aku benar-benar sangat cemburu. Tapi, aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya mampu menatapnya iri.
“Hei Ra, lagi mikirin apaan sich?? Dari tadi aku liat, kamu bengong mulu’. Lagi ngeliatin Raka ya??” tebak Risa yang tiba-tiba aja menyentuh pundakku dari belakangku.
“Apaan sich Ris, bikin orang kaget aja. Dan, ngapain juga lagi aku mikirin Raka, emangnya aku gak ada kerjaan laen ampe’ harus mikirin dia. Gak ada gunanya juga kan!?” jawabku ketus. “Yang ada malah iri”, lanjutku dengan agak berbisik.
“Apa Ra?”
“Ah,,, nggak. Nggak ada apa-apa kok”.
“Aku tau, kamu pasti cemburu kan!?” tebaknya lagi.
“Siapa juga yang cemburu. Udah ah,, lama-lama di sini bisa bikin aku sakit hati. Masuk dulu ya...” aku pun berbalik melangkahkan kakiku menuju kelas.
“Bener kan,, kamu cemburu. Udah dech ra, ngaku aja kenapa? Kan gak ada yang ngelarang. Lagian, ngapain juga kamu cemburu ma dia?”
“Udah dech,, masuk aja napa!”  Aku pun menarik tangan Risa memasuki kelas. Sebelumnya, aku melihat kembali ke arah Raka dan Mona. Sepintas kulihat, namun pasti. Raka juga melihat ke arahku. Dengan cepat, kulangkahkan kakiku menghilang di balik pintu.

****

“Ra, aku bisa minta tolong gak?” tanya Raka padaku siang itu, saat bel istirahat usai berdering.
“Tolong apaan, Ka?” aku balik bertanya. Dan tentunya, dengan senang hati aku pasti akan membantu sebisaku.
“Bisa bantuin aku ngerjain PR Fisika nggak? Tadi malam aku gak bisa ngerjainnya, dan sekarang Mona lagi nyariin aku. Jadi,,,,,”
“Kamu mau aku ngerjain PR itu buat kamu?” kataku memotong pembicaraannya.
“Yaaaaa,,, itu dia maksudku. Bisa kan, Ra?”
“Trus,, untungnya buat aku apa?”
“Kok gitu sich, Ra. Masa’ ama teman sendiri aja pake’ perhitungan segala. Please,,, bantuin aku ya Ra...” katanya sambil menggenggam tanganku. desiran aneh merambat dari kulit tanganku hingga menembus ke hatiku. Debaran jantungku pun semakin terasa tak beraturan.
“Ya udah, mana bukunya?” ucapku sambil berusaha menenangkan detak jantungku.
“Ma kasih ya Ra, kamu emang teman terbaikku. Nich bukunya, aku pergi dulu ya”. Tiba-tiba saja ia mengecup pipiku. Jantungku kembali berdetak kencang yang sebelumnya telah mampu ku kendalikan. Raka pergi bersama ketiga temannya. Rega, haris, dan Nanang.

****

Raka n friend....
            “Kamu kenapa nyium dia, Ka? Kamu kan tau Rara itu suka banget ma kamu. Gila ya ni anak...” kata Rega saat Raka berjalan mendekati mereka.
“Kenapa!!? Emangnya salah ya kalo’ dia suka ma aku. Wajar aja kalee...”
emang wajar sich dia suka ma kamu. Tapi,,, kamu nyium dia Ka,,, NYIUM. Persoalannya bisa jadi rumit kalo’ dia salah menafsirkannya, Raka. Kalo’ kita-kita sich emang udah biasa ngeliat kamu kaya’ gitu, iya nggak guys!?”
“Yoi man,,,” jawab Haris
“La kalo’ Rara???” Rega terdiam sejenak dan tak bisa berkata apa-apa lagi.
“Seru juga tuch...” kata Raka melihat kebisuan Rega.
“Apanya yang seru sich Ka?” tanya Nanang yang sedari tadi hanya diam. Temannya yang satu ini emang rada pendiam. Jadi, maklum aja kalo’ dia udah bicara.
“Aku kan bisa manfaatin dia buat mengerjakan tugas-tugasku”. Jelasnya.
“Ngerjakan tugas!!? Tugas apaan Ka?” tanya Haris yang emang agak tulalit, rada gak nyambung gitu dech.
“Tugas sekolah Haris....”
“Emangnya,,, kita ada tugas apaan sich??” tanya Haris semakin tak mengerti. Ini dia kalo’ tulalitnya udah kambuh.
“Tugas Matematika, Haris. Ngerti...!?” jelas Raka.
“Tugas Matematika?? Emangnya ada ya Nang? Kalo’ gak salah ku Bu Siska gak ada ngasih tugas la kemaren”. Haris semakin berpikir keras. Ketiga temannya hanya tertawa melihat gelagat Haris yang seperti orang bingung.
“Ya jelas gak ada la... udah jelas Bu Siska gak ada ngasih kita tugas. Kamu gimana sich, Ris”, bantah Rega menimpali kebingungan Haris.
“Kamu benar-benar gak mau belajar serius ya, Ka?” tanya Nanang.
“Belajar serius!? Buat apa?? Kita kan baru kelas dua, belum saatnya buat belajar serius Nang”.
trus, kapan seriusnya?”
“Nanti, kalo’ kita udah kelas tiga”.
“Bukannya kalo’ belajar serius sekarang, akan lebih bermanfaat buat kita di kelas tiga nanti Ka?”
“Ya udah, kamu belajar aja sana seserius mungkin. Lagian, kalo’ gak ada niat buat belajar, ngapain juga dipaksakan”, bantah Raka.
“Ka, sini dech!” panggil Mona. Raka pun melangkahkan kakinya mendekati Mona.
“Ada apa?”
“Ntar malam....”
“Masalah itu lagi. Gini ya, Mon. Aku tuch bener-bener gak bisa. Kamu ngerti gak sich??” potong Raka.
“Emangnya kenapa?”
“Ya,,, nggak kenapa-napa. Aku Cuma capek keluar malam terus”. Jawab Raka sekenanya. Rega, Haris dan Nanang yang melihat Raka hanya mampu tersenyum sinis.
“Kok gitu sich, Ka. Apa gunanya dong Mona punya pacar tapi gak bisa nemenin Mona jalan?”
“Cari aja yang lain, yang bisa nemenin kamu jalan setiap saat. Kita putus aja, gampang kan!?”
“Oh,,, gitu ya, Ka. Seenak itu kamu mutusin hubungan kita”. Ucap Mona dengan tatapan sinis. “Ok... kita putus. Dasar egois”. Ia pun pergi dengan penuh kebencian.

****

Hembusan angin senja ini, membuat bulu-bulu di sekujur tubuhku berdiri. Tepat jam 04.00 sore, keadaan semakin sejuk dan meresap di tubuhku. Tapi, aku masih tak bergeming dari tempatku. Kenangan itu teringat kembali olehku, saat dia mengungkapkan perasaannya padaku. Saat itu, aku merasa sangat bahagia.
“Gimana Ra, kamu mau kan jadi pacar aku?” tanya Raka padaku.
“Memangnya aku pantas ya jadi pacar kamu, Ka?”
“Yach,,, ni anak. Kita nanya, dia malah balik nanya. Ya pantaslah, Ra. Kamu baik, cantik lagi. Apa coba salahnya?”
“Tapi, aku kan gak secantik Mona dan gak sebaik yang kamu kira. Siapa tau, aku malah lebih buruk dari mantan-mantan pacar kamu”.
“Udah dech, ngapain juga banding-bandingkan kamu ama mereka. Whatever, ntar malam aku jemput ya..”
“Kemana?”
“Ya jalanlah. Ini kan kencan pertama kita. Aku pergi dulu ya Sayang...” Raka pun pergi setelah mengecup dahiku. Ini terasa bagaikan mimpi buatku. Akhirnya, semua yang aku impikan selama ini jadi nyata. Aku sekarang bener-bener udah jadi pacarnya Raka.
cie.... ada yang senyum-senyum sendiri nich. Lagi happy ya, Ra. Atau,,, temenku yang satu ini lagi jatuh cinta ya...?” tebak Risa yang tiba-tiba muncul di depan pintu dan mendekatiku.
“Ye... apaan sich??”
“Jangan muna dech, Ra. Aku liat sendiri kok barusan Raka keluar dari kelas ini. Sambil senyum-senyum lagi. Ya... kaya’ kamu sekarang ini. Ayolah, ngaku aja napa?” desaknya.
“Kamu kok selalu bisa tau duluan sich, Ris...”
“Ya jelas aja, Risa gitu lho”. Kata Risa membanggakan dirinya. “Ngomong-ngomong, kamu udah jadian ya ama Raka?” tanya Risa. Aku hanya mampu tersenyum mendengar pertanyaannya.

0 komentar:

Posting Komentar